25.6 C
Jakarta
Friday, July 12, 2024
HomeLainnyaBUNG KARNO DAN SAUS NOMOR SATU DI DUNIA

BUNG KARNO DAN SAUS NOMOR SATU DI DUNIA

Malaysia tidak memiliki sejarah kecap manis dan hanya meniru Indonesia dalam pembuatan Kecap Nomor Satu di Dunia. Kurang dari tiga tahun yang lalu, di Frankfurt Book Fair, Jerman, pameran buku terbesar di dunia, almarhum Bondan ‘Maknyus’ Winarno memperkenalkan buku hasil karyanya, Kecap Manis: Indonesia’s National Condiment. Melalui buku yang eksklusif, setebal 300 halaman, dan diterbitkan oleh Afterhours Book ini, Bondan ‘memproklamasikan’ bahwa kecap manis adalah warisan kuliner asli Indonesia. Buku Bondan dijual dengan harga yang cukup tinggi, Rp 990 ribu. Namun, buku yang mengulas secara mendalam mengenai kecap, terutama kecap manis memang langka. “Ini buku yang luar biasa,” kata Lutfi Ubaidillah, seorang pengusaha swasta asal Bandung, yang merupakan penggemar berat kecap, terutama kecap manis.

Lutfi bahkan memiliki kecenderungan ‘tidak bisa hidup tanpa kecap’. Sejak kecil di Bandung, kecap manis sudah menjadi menu wajib di meja makan rumahnya. Dia sangat serius dalam kegemarannya terhadap kecap. Tidak hanya makan dengan kecap, dia juga mengoleksi botol-botol kecap dari berbagai daerah di Indonesia dan membuat blog khusus tentang kecap nomor satu di dunia, kecap-kecap asli Indonesia, Wikecapedia. Saat masih hidup, Bondan, seorang mantan wartawan yang gemar kuliner, juga pernah mengoleksi kecap-kecap asli Indonesia. Koleksinya mencakup lebih dari seratus merek, termasuk Kecap Blitar, kecap Zebra dari Bogor, Sawi dari Kediri, dan lain-lain.

Meskipun tidak banyak penggemar kecap sekaligus kolektor botol kecap seperti Bondan, Lutfi, Chef Alifatqul Maulana, dan Andrew Mulianto, seharusnya terdapat banyak penggemar kecap di seluruh Indonesia. Tidak mengherankan jika terdapat ratusan perusahaan kecap yang tersebar dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan, sebagian merek kecap telah bertahan selama beberapa generasi. Mulai dari merek besar seperti Bango, Indofood, dan ABC, hingga merek rumahan yang hanya dikenal di daerah, seperti kecap Cap Pulau Djawa di Pekalongan, kecap Kentjana di Kebumen, dan kecap Tin Tin dari Garut, Jawa Barat.

Di antara industri kecap turun-temurun tersebut, terdapat kecap Maja Menjangan di Majalengka, Jawa Barat, dan kecap Cap Tomat Lombok dari Tegal, Jawa Tengah. Meskipun terus mengalami kerugian, para pengusaha kecap ini tidak menyerah. Meski perusahaan besar menawarkan kerjasama dan suntikan modal besar kepada mereka, mereka memilih untuk tetap mempertahankan usaha warisan tersebut.

Pada tahun 1960-an, Presiden Sukarno mengundang sejumlah wartawan ke Istana di Jakarta. Pada saat bersantap, Bung Karno meminta pelayan untuk membawa sebotol kecap sebagai pelengkap nasi goreng dan telur yang tersedia. Dia menyebut kecap tersebut sebagai kecap paling enak di dunia yang berasal dari Blitar, tempat di mana dia dibesarkan. Keberlanjutan ketertarikan akan kecap ini turun kepada putri Sukarno, Megawati. Di Blitar, terdapat beberapa merek kecap seperti Cap Bajang, Cemara, dan Cap Durian Emas.

Kecap, meskipun bukan resep asli dari Indonesia, sangat akrab dengan lidah masyarakat Indonesia. Di setiap daerah, setiap pabrik kecap memiliki resep sendiri dalam pembuatan kecap. Hal ini membuat kecap memiliki ciri khas yang berbeda-beda, tergantung dari bahan baku dan cara pengolahan yang digunakan. Meskipun terdapat perusahaan kecap di Malaysia yang memproduksi kicap lemak manis, seperti Cap Jalen, Cap Kipas Udang, Adabi, dan Mudim, kecap manis mereka tidak sepopuler kecap manis Indonesia. Menurut Bondan, Malaysia hanya meniru kecap manis Indonesia dan tidak memiliki sejarah dalam pembuatan kecap manis.

Source link

BERITA TERBARU
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER