32.5 C
Jakarta
Monday, May 11, 2026
HomeLainnyaPerang Informasi Berbasis AI Ancam Integritas Publik

Perang Informasi Berbasis AI Ancam Integritas Publik

Pada Konferensi Mahasiswa Pascasarjana Internasional (IPGSC) yang digelar oleh Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia pada 23 sampai 24 Oktober 2025, Raden Wijaya Kusumawardhana hadir sebagai perwakilan Menteri Komunikasi dan Digital. Ia menyampaikan pandangannya mengenai kecerdasan buatan (AI), geopolitik, serta ancaman keamanan siber yang tengah berkembang di era digitalisasi ini.

Raden Wijaya menyoroti transformasi global, di mana data dan algoritma kini menjadi sumber daya strategis dan teknologi digital telah menjadi fondasi baru bagi struktur kekuatan internasional. AI tidak hanya menghadirkan inovasi dalam ekonomi dan kehidupan sosial, namun juga berperan aktif dalam redefinisi dan perebutan kekuatan geopolitik dunia.

Dominasi Teknologi dan Perubahan Pola Persaingan

Dalam pemaparannya, Raden Wijaya menyinggung contoh kemunculan DeepSeek, produk AI asal Tiongkok, yang mampu mengubah peta kekuatan AI dunia hanya dengan dana sekitar 6,5 juta USD. Kehadiran DeepSeek menurunkan valuasi pasar AI global dari 1 miliar USD menjadi 969 juta USD. Fenomena ini menandakan dinamika dan persaingan yang semakin kencang di antara berbagai pelaku industri teknologi internasional.

Selain itu, ia menyoroti bagaimana konflik bersenjata modern, seperti antara Iran dan Israel, serta perang yang melibatkan Rusia dan Ukraina, telah menunjukkan peningkatan besar dalam penggunaan kecerdasan buatan untuk aktivitas militer, analisa intelijen, hingga pengoperasian senjata otomatis. Kapabilitas AI yang bisa digunakan ganda (dual-use), keterkaitan dengan industri semikonduktor, dominasi negara-negara yang memimpin teknologi ini atas penetapan standar global, serta potensi ketergantungan tinggi pada negara tertentu menambah kompleksitas isu AI dalam geopolitik kontemporer.

Ancaman Siber di Tengah Kemajuan Teknologi

Raden Wijaya menggarisbawahi bahwa ancaman siber yang muncul di era digital memiliki wajah yang semakin rumit, tak terbatas oleh ruang dan waktu, serta sarat dengan nuansa dual-use. Perangkat digital dan teknologi AI, yang mulanya diciptakan untuk tujuan pembangunan sektor sipil, kini dapat dimodifikasi untuk kepentingan ofensif oleh berbagai pihak, baik negara maupun non-negara.

Pertama, ia menekankan sifat dual-use: perangkat lunak, perangkat keras, AI, hingga komputasi awan, bisa dialihkan fungsinya menjadi instrumen untuk menyerang jaringan lawan, melakukan sabotase, atau menjalankan operasi intelijen. Kompetisi dan rivalitas antarnegara kini juga berlangsung di ranah digital, sementara kelompok kriminal, aktivis dunia maya, dan aktor tak resmi lainnya turut menggunakan teknologi serupa untuk aksi sabotase, pemerasan, hingga serangan sistem layanan publik.

Kedua, ciri utama ancaman siber adalah asimetri. Negara-negara yang memiliki sumber daya besar dapat menargetkan infrastruktur digital vital milik negara lain dengan presisi tinggi. Namun, di saat yang sama, kelompok kecil dengan keahlian terbatas pun mampu menyebabkan kehancuran yang luas dengan memanfaatkan celah keamanan, malware, dan botnet. Hal ini menyebabkan lingkungan siber terbuka bagi kompetisi antara pihak besar dan kecil.

Ketiga, adanya derajat ambiguitas serta tingkat kesulitan dalam mengidentifikasi pelaku serangan siber menjadi tantangan tersendiri. Serangan kerap dilakukan melalui perantara, baik kelompok kriminal maupun pihak independen, sehingga pelaku utama kerap sulit dikenali. Teknologi AI memperparah kondisi ini, karena mempercepat otomatisasi serangan, menghasilkan konten palsu dalam jumlah besar, serta memudahkan eksploitasi kelemahan sistem keamanan.

Keempat, ancaman siber erat kaitannya dengan manipulasi informasi. AI memungkinkan penciptaan disinformasi dan propaganda digital oleh negara atau kelompok lain, guna mempengaruhi persepsi masyarakat, mengacaukan situasi dalam negeri, maupun merusak legitimasi institusi pemerintahan.

Ia menegaskan bahwa tantangan siber bukanlah sekadar isu teknis, melainkan ancaman strategis yang nyata bagi kedaulatan negara, keamanan nasional, serta kestabilan politik Indonesia. Untuk itu, pembangunan kekuatan siber dalam negeri harus dijalankan secara serius dengan strategi penangkalan yang kuat dan penyiapan sumber daya manusia digital yang mumpuni, agar Indonesia dapat menjaga kemandirian dan pengendalian di era teknologi yang terus berkembang.

Memperkuat Kedaulatan Data dan Talenta Digital Indonesia

Menurut Raden Wijaya, Indonesia wajib memperkuat posisi strategis melalui pengembangan ekosistem digital yang mengutamakan inovasi sekaligus ketangguhan keamanan. Upaya konkret bisa dilakukan lewat investasi pada pendidikan talenta digital, penelitian AI, penguatan industri mikroprosesor, dan perlindungan infrastruktur penting yang menjadi tulang punggung kedaulatan digital nasional.

Di akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa keberhasilan masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan teknologi tercanggih, tetapi juga oleh kemampuan menjaga, mengatur, serta merawat teknologi tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari kepentingan dan keamanan nasional.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global

BERITA TERBARU

BERITA POPULER