Istilah sugar rush kerap menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat belakangan ini. Sugar rush biasanya mencerminkan kondisi di mana seseorang, terutama anak-anak, menjadi sangat aktif setelah mengonsumsi makanan manis atau tinggi gula seperti permen atau cokelat. Menurut definisi dari Cambridge Dictionary, secara medis sugar rush mengacu pada tingginya kadar gula dalam darah, namun secara umum dianggap sebagai lonjakan energi yang membuat seseorang tiba-tiba penuh semangat.
Meskipun anggapan tentang sugar rush sering kali dikaitkan dengan lonjakan energi, beberapa penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Sebuah meta analisis yang dilakukan oleh Konstantinos Mantantzis dan tim pada tahun 2019 menemukan bahwa fenomena sugar rush sebenarnya hanyalah mitos belaka. Sejumlah eksperimen terkontrol menunjukkan bahwa orangtua cenderung menganggap anak-anak mereka lebih aktif setelah mengonsumsi gula, meskipun pada kenyataannya anak-anak tersebut tidak mengonsumsi gula sama sekali.
Kegembiraan yang sering terjadi di pesta bukan semata-mata karena konsumsi gula, melainkan lebih disebabkan oleh suasana meriah dan interaksi sosial. Oleh karena itu, para ahli kesehatan sangat menyarankan untuk membatasi konsumsi gula agar tidak melebihi 10% dari total kalori harian guna mencegah berbagai komplikasi kesehatan di masa depan.
Kementerian Kesehatan RI menyarankan agar orang dewasa maksimal mengonsumsi 4 sendok makan gula per hari, yang setara dengan sekitar 50 gram gula. Sementara itu, rekomendasi asupan gula harian untuk anak-anak berdasarkan usia telah disarankan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), seperti 15-16 gram untuk usia 2-4 tahun, 18-20 gram untuk usia 4-7 tahun, hingga 28-37 gram untuk usia 15-19 tahun. Perhatian terhadap asupan gula sangat penting untuk menjaga kesehatan baik anak-anak maupun orang dewasa.


