Belakangan ini, semakin banyak kasus perceraian yang melanda rumah tangga artis, bahkan nama-nama besar di industri hiburan. Perceraian seringkali menimbulkan stigma pada pihak perempuan, namun sebenarnya cerai terkadang menjadi solusi yang sehat bagi perempuan untuk menyelamatkan diri. Menurut Tika Bisono, seorang psikolog, dosen, dan konselor, dampak negatif dari perceraian tidak terlalu tinggi bagi perempuan di usia matang. Ketergantungan ekonomi dan psikologis tidak menjadi hambatan besar bagi mereka.
Kemandirian psikologis memainkan peran penting dalam memperlakukan perceraian. Perempuan yang mandiri cenderung lebih siap menghadapi perceraian tanpa menganggapnya sebagai akhir dari segalanya. Namun, bagi yang tidak mandiri, perceraian bisa menjadi beban psikologis yang berat. Perasaan kesepian dan kekosongan dapat membuat kualitas hidupnya menurun drastis.
Stigma negatif seputar perceraian seringkali muncul karena pemahaman masyarakat tentang kebahagiaan yang sejati. Banyak orang masih percaya bahwa kebahagiaan hakiki hanya dapat ditemukan dalam rumah tangga yang utuh. Namun, semakin seseorang menua, semakin mereka sadar bahwa kepura-puraan tidak akan membawa kebahagiaan. Oleh karena itu, perceraian lebih sering terjadi pada rentang usia 30 hingga 40 tahun, saat orang-orang mulai mempertimbangkan kebahagiaan sejati dalam hidup mereka.


