Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, telah mengumumkan pengunduran diri dan pensiun dini dari jabatannya. Keputusan ini diambil setelah Daryono menjalani perawatan medis akibat sakit mata yang disebut distrofi kornea. Pengunduran diri tersebut diumumkan setelah Daryono secara resmi mengajukan diri kepada pimpinan BMKG pada Jumat malam, 13 Februari 2026.
Daryono juga meminta agar media tidak lagi mencantumkan afiliasinya sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam pemberitaan. Meskipun tidak lagi menjabat, Daryono tetap berkomitmen untuk memberikan edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan. Sebagai seorang ahli dan edukator publik di bidang kebencanaan, Daryono berjanji untuk tetap menjunjung tinggi objektivitas ilmiah, integritas, dan kepentingan keselamatan masyarakat.
Daryono memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, lulus dari Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) angkatan 1993, meraih gelar sarjana Meteorologi dan Geofisika dari Universitas Indonesia pada tahun 2000, magister dari Universitas Udayana pada 2002, dan juga gelar doktor Ilmu Geografi dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2006. Karirnya di BMKG dimulai dari staf teknis hingga menjabat sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami sejak 2022.
Selama ini, Daryono dikenal sebagai salah satu sumber informasi utama terkait gempa bumi dan potensi tsunami, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga sering membuat analisis ilmiah seputar gempa-tsunami baik kepada wartawan maupun melalui media sosial pribadinya. Meskipun meninggalkan jabatannya, Daryono tetap akan memberikan kontribusi dalam edukasi dan penelitian di bidang kebencanaan serta menjaga integritas ilmiahnya.


