Menteri Agama, Nasaruddin Umar, telah melaporkan hasil dari tim pemantau yang ditempatkan di 117 titik di seluruh Indonesia yang tidak menemukan penampakan hilal. Sehingga, penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan ini dilakukan setelah melakukan mekanisme musyawarah yang mengacu pada hasil hisab dan rukyat di seluruh Indonesia. Tidak adanya penampakan hilal oleh tim pemantau di lapangan memperkuat kesimpulan bahwa Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada 21 Maret 2026.
Menurut Nasaruddin, hasil perhitungan hisab menunjukkan bahwa posisi hilal pada hari pengamatan belum memenuhi kriteria visibilitas yang telah ditetapkan oleh negara-negara anggota MABIMS. Ketinggian hilal di wilayah Indonesia berkisar antara 0 derajat 54 menit hingga 3 derajat 7 menit dengan sudut elongasi antara 4 derajat 32 menit hingga 6 derajat 6 menit, sehingga menjadikan hilal sulit untuk diamati secara teoritis.
Dengan demikian, berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya penampakan hilal yang terlihat, diputuskan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Meskipun Idul Fitri tidak dirayakan secara serentak, Menag berharap keputusan ini dapat menjadi momen kebersamaan umat Islam di Indonesia dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersama-sama sebagai simbol persatuan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.


