Gemeretak gigi saat tidur merupakan kondisi yang seringkali dapat mengganggu orang lain yang tidur dalam satu ruangan dengan kita. Kondisi ini dikenal dengan istilah bruxism, yang dapat terjadi pada pria maupun wanita, namun lebih sering terjadi pada anak-anak usia 3-12 tahun. Menurut penjelasan dari dokter spesialis neurologi Yeni Quinta Mondiani, bruxism ditandai dengan gerakan mengunyah berulang yang menyebabkan gesekan antar gigi. Hal ini dapat menghasilkan suara yang mengganggu dan berdampak negatif pada kesehatan gigi serta sendi rahang.
Penyebab bruxism sendiri dapat terjadi akibat peningkatan aktivitas otot-otot pengunyahan seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid, yang dipicu oleh gangguan kontrol gerakan dalam sistem saraf, terutama yang melibatkan sistem dopaminergik. Dosen dari Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University menjelaskan bahwa kontraksi otot ini menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan kondisi normal, menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur gerakan tersebut.
Terkait dengan faktor psikologis, bruxism juga dapat dipicu oleh stres dan cemas. Berdasarkan sebuah meta-analisis, tingkat stres seseorang dapat berpengaruh terhadap risiko munculnya kebiasaan gemeretak gigi ini. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi pemicu stres dan belajar bagaimana mengelolanya. Hal ini tidak hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk menjaga kualitas tidur serta kesehatan gigi dan rahang secara keseluruhan.


