Prof. Handryastuti menawarkan lima strategi penting yang tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga menekankan kolaborasi lintas sektor. Strategi tersebut mencakup optimalisasi peran dokter anak dan dokter umum melalui kebijakan task-shifting and training dengan dukungan kuesioner INA-PEPSI, telekonsultasi untuk peningkatan pendidikan kedokteran berkelanjutan, perluasan akses diagnostik dan terapi dengan pengadaan EEG portabel, distribusi obat generasi kedua dan ketiga di berbagai level layanan, serta penguatan edukasi publik melalui komunitas seperti RPEAI dan kampanye Purple Day. Prof. Handryastuti menegaskan pentingnya tidak ada satu pun anak dengan epilepsi yang tertinggal dalam mendapatkan pelayanan. Penanganan harus terintegrasi dari puskesmas hingga ke tingkat RS Utama dan paripurna, termasuk daerah 3T. Dengan integrasi teknologi digital dan penguatan sumber daya manusia, kita dapat memberikan keadilan bagi seluruh anak Indonesia.


