Serangan jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan lebih dari 650.000 jiwa meninggal setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular. Bukan hanya dialami oleh lansia, serangan jantung kini juga bisa mengintai usia muda dan produktif, bahkan saat sedang berolahraga. Kurang pemahaman tentang cepatnya kerusakan otot jantung menjadi salah satu alasan tingginya angka kematian. Menurut Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, M.M, waktu sangat penting dalam keselamatan pasien. Penanganan serangan jantung harus dilakukan secepat mungkin karena kerusakan otot jantung bisa terjadi hanya dalam 20–30 menit. Prinsip dalam dunia medis adalah time is muscle, artinya semakin cepat aliran darah ke jantung dipulihkan, semakin banyak otot jantung yang bisa diselamatkan.
Oleh sebab itu, penanganan serangan jantung tidak boleh ditunda. Pasien idealnya harus menerima tindakan medis dalam waktu kurang dari 90 menit sejak tiba di rumah sakit, yang dikenal sebagai door-to-balloon time. Dengan fasilitas dan tim yang siap, pasien dapat segera ditangani di cath lab menggunakan PCI (Percutaneous Coronary Intervention) untuk membuka sumbatan pembuluh darah jantung. Prosedur ini bertujuan untuk mengembalikan aliran darah ke otot jantung, mengurangi kerusakan jaringan, dan meningkatkan peluang hidup pasien secara signifikan.


