Orang tua anti vaksin masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi anak di Indonesia. Banyak yang yakin anaknya sehat meski tidak di-vaksin karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang telah memiliki cakupan imunisasi tinggi. Pendekatan edukasi menjadi kunci utama, fokus pada kelompok yang masih terbuka untuk menerima informasi vaksin. Menurut dr. Kanya Ayu, Sp.A, dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia, kelompok yang belum yakin memiliki potensi besar untuk berubah, terutama jika diberikan informasi yang benar dan ilmiah oleh tenaga kesehatan dan orang terdekat.
Menurut Prof. DR. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), MSi, dokter spesialis anak konsultan Tumbuh Kembang Anak, fenomena anak yang tidak divaksin tetapi tetap sehat disebabkan oleh herd immunity atau kekebalan kelompok. Namun, perlindungan ini bersifat sementara dan tidak permanen, sehingga risiko meningkat ketika anak berada di lingkungan dengan cakupan imunisasi rendah. Komunikasi yang tepat menjadi kunci dalam menghadapi orang tua anti vaksin, dengan pendekatan edukatif dan empatik dianggap lebih efektif daripada berdebat.
Dengan edukasi yang benar, diharapkan orang tua yang masih ragu-ragu atau berada di grey area dapat tergerak untuk melengkapi vaksin anak dan keluarganya. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan imunisasi secara efektif dan membangun perlindungan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat.


