25.8 C
Jakarta
Wednesday, July 22, 2026
HomeBeritaStrategi Efektif Mengisi Ruang Komunikasi Pemerintah

Strategi Efektif Mengisi Ruang Komunikasi Pemerintah

Narasi Media Sosial vs Klarifikasi Pemerintah

Pada Rabu, 27 Mei 2026, terjadi perbandingan antara narasi liar di media sosial dengan pernyataan resmi pemerintah terkait isu yang sedang ramai diperbincangkan di masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bagaimana cepatnya informasi dari konten kreator menyebar dan lebih diminati oleh publik dibandingkan klarifikasi pemerintah.

Peran Pemerintah yang Kurang Menonjol

Saat ini, peran pemerintah dalam mengambil alih narasi informasi terlihat kurang efektif jika dibandingkan dengan maraknya konten di media sosial. Hal ini menjadi sorotan Anggy Pasaribu, pendiri Story of Anggy, yang menyebut kondisi ini sebagai Vacuum of Narrative dari pemerintah. Kurangnya kehadiran narasi resmi membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun secara tidak langsung.

Meningkatkan Kepercayaan Publik

Menurut Anggy, aktor utama dalam penyampaian informasi harus lebih aktif dalam membangun narasi yang benar. Jika tidak, publik akan mencari penjelasan dari sumber lain yang dianggap lebih cepat dan emosional. Hal ini dapat menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, sehingga kebijakan yang dikeluarkan akan lebih mudah dipertanyakan.

Julian Aldrin Pasha, Ketua Institut untuk Demokrasi dan HAM The Habibie Center, menekankan pentingnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sebagai salah satu kunci kuatnya demokrasi. Tanpa kepercayaan dari publik, demokrasi akan sulit diterapkan dengan baik.

Eko Wahyuanto, Tenaga Ahli Deputi 1 Badan Komunikasi, turut menyadari bahwa keterbukaan informasi dan kepercayaan dari masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga jalannya demokrasi. Evaluasi terus dilakukan untuk memastikan komunikasi yang baik antara pemerintah dan publik.

Source link

BERITA TERBARU

BERITA POPULER