Bonnie Triyana Ajak Generasi Muda Bedah Buku Marhaenisme
Sabtu, 11 Juli 2026 – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Bonnie Triyana mengajak generasi muda untuk membangkitkan ruang diskusi publik melalui bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z”. Kegiatan ini diselenggarakan di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Menurut Bonnie, buku tersebut memberikan tafsir baru tentang Marhaenisme yang digagas oleh Presiden pertama RI, Soekarno. Ia menekankan pentingnya agar konsep tersebut tetap relevan dalam menanggapi tantangan sosial, ekonomi, dan politik di era saat ini. Bonnie menyatakan bahwa buku ini membawa perspektif baru tentang Marhaenisme, yang memungkinkan untuk memperbarui pemikiran Soekarno agar tetap relevan dalam konteks zaman sekarang.
Mengupas Marhaenisme dari Sudut Pandang Baru
Bonnie menilai Museum Multatuli sebagai tempat yang tepat untuk membahas Marhaenisme, karena kesesuaiannya dengan kisah Saijah dan Adinda dalam novel Max Havelaar. Kisah ini menggambarkan nasib rakyat kecil yang menjadi korban penindasan kolonial dan feodalisme. Ia juga mendorong peserta diskusi, khususnya generasi muda, untuk membaca dan mendiskusikan isi buku tersebut guna mengasah kemampuan berpikir kritis mereka.
Pentingnya Memahami Marhaenisme dalam Konteks Kontemporer
Airlangga Pribadi, salah satu penulis buku, mengungkapkan bahwa Marhaenisme perlu dipahami bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai alat berpikir untuk menganalisis persoalan-persoalan zaman sekarang. Ia menyoroti persoalan-persoalan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini, yang seringkali dianggap sebagai kegagalan individu, padahal akar permasalahannya bersifat sistemik dan struktural.
Airlangga juga mencontohkan situasi pekerja ekonomi digital yang hidup dalam ketidakpastian kerja, serta krisis ekologis akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Ia menegaskan bahwa persoalan-persoalan ini harus diperjuangkan melalui jalur politik, sesuai dengan ajaran Bung Karno.


