32.7 C
Jakarta
Monday, September 14, 2026
HomeLainnyaPaseban Foundation Kembangkan Pendekatan Konservasi yang Berbasis Data

Paseban Foundation Kembangkan Pendekatan Konservasi yang Berbasis Data

Sebagai motor penggerak kolaborasi lintas sektor di bidang konservasi, Paseban Foundation kembali menunjukkan komitmennya dalam mempererat jaringan kemitraan untuk pelestarian alam, khususnya di Megamendung yang merupakan bagian Cagar Biosfer Cibodas. Dalam rangka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2026 sekaligus menandai dua tahun kiprah Paseban Foundation, digelarlah Annual Dinner bertema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve.” Acara ini menjadi momen strategis, mempertemukan representasi Kementerian, organisasi internasional, lembaga legislatif, akademisi, pelaku usaha, filantropi, tokoh budaya dan anak muda dalam satu forum dialog terbuka.

Momentum ini mempertegas pentingnya kerja kolektif, sebab pelestarian ekosistem Megamendung tidaklah cukup bila ditangani oleh satu sektor saja. Keterlibatan lintas kelembagaan dan generasi sangat dibutuhkan demi efektivitas konservasi jangka panjang.

Andy Utama, pendiri sekaligus pembina Paseban Foundation, menyoroti pentingnya kesinambungan peran generasi. Ia menekankan bahwa kerja konservasi adalah proses panjang yang perlu diwariskan ke anak muda agar tidak berhenti di satu titik atau figur. Andy menyatakan bahwa pelestarian alam harus dijalankan dengan ketahanan, dan estafet pengetahuan harus terus dialirkan ke generasi berikutnya. Karenanya, foundation ini dibentuk sebagai ruang bersama untuk pemerintah, bisnis, organisasi internasional, masyarakat, dan akademisi bersinergi menjaga kawasan penting seperti Megamendung.

Paseban Foundation pun tidak menempatkan dirinya sebagai poros utama, namun memilih berperan sebagai katalis kolaborasi, mempertemukan berbagai otoritas dan sumber daya lintas bidang. Dengan demikian, setiap pihak bisa berkontribusi sesuai kompetensinya dalam menjaga lanskap strategis ini.

Kegiatan nyata di lapangan meliputi perlindungan habitat, pemulihan ekosistem lewat penanaman ribuan pohon endemik dan nonendemi, serta aksi konservasi ex-situ seperti penangkaran satwa liar, di antaranya burung dan rusa yang telah berhasil berkembang biak. Survei berkala menggunakan kamera trap serta riset biodiversitas memperkuat basis data keanekaragaman hayati, termasuk keberadaan lima primata Jawa langka—suatu pencapaian mengingat tingginya tekanan populasi manusia di pulau Jawa. Tak hanya itu, Megamendung juga dikenal sebagai habitat Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa.

Direktur Eksekutif Wahdi Azmi menuturkan, kawasan Megamendung merupakan miniatur penting yang memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan ekosistem di lanskap yang sangat dipengaruhi manusia, namun masih menyimpan kekayaan satwa dan flora endemik.

Paseban Foundation bukan hanya berfokus pada eksekusi program di lapangan. Semua data, temuan, bahkan pembelajaran dari aktivitas konservasi selalu diolah dan didokumentasikan ke dalam berbagai bentuk produk pengetahuan, mulai dari buku, riset, dokumenter, hingga materi edukasi. Pengetahuan ini lalu dimanfaatkan untuk penelitian, advokasi kebijakan, edukasi masyarakat, penguatan kapasitas hingga menjadi bahan kampanye publik. Beberapa inisiatif monumental seperti peluncuran “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban,” buku “Kepemimpinan Bentang Alam,” hingga penayangan perdana film “The Silent Resilience” semakin menegaskan transformasi Paseban Foundation menjadi lembaga penghasil dan penyebar ilmu pengetahuan.

Sistem pengelolaan pengetahuan ini dirancang agar pembelajaran dari lapangan dapat diakses luas, memperluas dampak dan meningkatkan kesadaran publik. Dengan ekosistem pengetahuan terintegrasi, output konservasi tidak sebatas benefit internal, namun menjadi trigger sinergi, basis pengambilan kebijakan, dan sarana edukasi lintas generasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengapresiasi keberhasilan lembaga ini mengolaborasikan berbagai kekuatan melalui keandalan pengelolaan data di lapangan. Ia mendorong agar hasil riset dan temuan Paseban Foundation tidak sekadar tercatat, namun turut menjadi isu strategis dalam diskursus publik.

Senada dengan itu, Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan menekankan pentingnya regenerasi kader konservasi. Ia mengingatkan bahwa senior yang saat ini menangani konservasi, kelak harus digantikan oleh generasi muda yang kompeten agar keberlanjutan tetap terjaga.

Penasihat organisasi, Wiratno, menyoroti urgensi kepemimpinan kolektif yang mampu menembus sekat administratif maupun sektoral. Menurutnya, ekosistem tidak mengenal batas pemerintah; air, hutan dan satwa adalah satu sistem yang menuntut integrasi kepentingan dan kolaborasi di level praksis.

Dengan pendekatan berbagi peran, membangun jejaring dan transfer ilmu menuju kolaborasi berkesinambungan, Paseban Foundation terus meletakkan fondasi agar agenda konservasi Megamendung melampaui sekat waktu, individu, maupun program, tapi menjadi gerakan lintas generasi dan lembaga secara konsisten.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut

BERITA TERBARU

BERITA POPULER