Kasus campak kembali menjadi sorotan setelah terjadi lonjakan di beberapa wilayah Indonesia pada awal tahun 2026. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit ringan karena gejala ruam kulitnya, campak sebenarnya bisa mengakibatkan risiko serius, termasuk gangguan pada otak dalam jangka panjang. Menurut Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Hinky Hindra Irawan Satari, campak bukan hanya penyakit infeksi biasa karena tingkat penularannya yang tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian. Dalam sebuah webinar bertajuk ‘Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi Sampai Komplikasi’, Hinky menyampaikan peringatan ini pada Rabu, 1 April 2026.
Salah satu bahaya yang sering kali terabaikan adalah dampak jangka panjang campak terhadap otak, seperti peradangan otak (ensefalitis) dan kondisi langka tetapi fatal seperti subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Hal ini dapat terjadi bertahun-tahun setelah seseorang terinfeksi campak dan menyebabkan penurunan fungsi otak secara bertahap. Para ahli menegaskan bahwa campak tidak boleh dianggap enteng terutama dengan menurunnya cakupan imunisasi.
Penurunan kasus imunisasi campak, baik MR1, MR2, atau BIAS, dari tahun 2024 hingga 2026 dikaitkan dengan peningkatan kasus campak saat ini. Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Indri Yogyaswari, menyatakan bahwa penurunan ini menyebabkan terbentuknya kelompok rentan yang memudahkan penyebaran virus dan menciptakan kejadian luar biasa (KLB).
Tidak hanya menyerang anak-anak, campak juga bisa menginfeksi orang dewasa terutama jika belum divaksinasi atau imunitasnya rendah. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Iris Rengganis, menegaskan bahwa vaksinasi tetap merupakan cara paling efektif dan aman untuk mencegah campak terutama dalam situasi wabah. Imunisasi campak untuk dewasa tersedia dalam bentuk MR atau MMR dan diberikan dalam dua dosis dengan selang minimal 28 hari. Para ahli sependapat bahwa imunisasi merupakan langkah terbaik untuk mencegah campak dan komplikasi serta pentingnya deteksi dini dan isolasi pasien untuk mengurangi penyebaran virus.


