Jika seseorang mengalami detak jantung yang tidak teratur, itu mungkin bukan karena aritmia. Detak jantung yang tidak teratur bisa disebabkan oleh konsumsi kafein berlebih, olahraga intens, stres, emosi seperti jatuh cinta, takut, atau panik. Biasanya, irama jantung akan kembali normal setelah pemicu hilang.
Detak jantung yang berbahaya biasanya muncul tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam jangka waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. Ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan perhatian medis.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya akan merekomendasikan metode screening elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung. Namun, jika detak jantung tidak teratur tidak selalu muncul selama pemeriksaan EKG, maka dokter dapat memasang Holter monitoring.
Holter monitoring adalah alat kecil yang dipasang pada tubuh selama 24-48 jam (atau lebih) untuk merekam setiap detak jantung saat beraktivitas normal hingga tidur. Metode ini sangat efektif dalam mendeteksi gangguan detak jantung yang mungkin tidak terlihat selama pemeriksaan EKG rutin.
Selain itu, ada juga event recorder yang mirip dengan Holter monitoring, namun digunakan dalam jangka waktu lebih lama (mingguan) untuk pasien yang gejalanya muncul sangat jarang.
Jika diagnosis aritmia sudah ditegakkan, maka tindakan harus segera dilakukan. Salah satu opsi pengobatan yang populer adalah ablasi jantung, sebuah prosedur minimal invasif di mana dokter memperbaiki jalur listrik yang rusak untuk mengembalikan irama jantung normal tanpa perlu operasi terbuka. Penggunaan pacemaker juga telah terbukti membantu banyak orang dalam kembali beraktivitas normal.


