30.7 C
Jakarta
Thursday, June 11, 2026
HomeBeritaFakfak: Potensi Investasi Besar, DPD Ingatkan Pentingnya Menghormati Masyarakat Adat

Fakfak: Potensi Investasi Besar, DPD Ingatkan Pentingnya Menghormati Masyarakat Adat

Investasi Besar Fakfak: Tantangan dan Harapan dari Senator Papua

Pembicaraan mengenai investasi besar yang akan masuk ke Kabupaten Fakfak, Papua Barat, telah menarik perhatian anggota DPD RI, Filep Wamafma. Menurutnya, proyek-proyek strategis nasional (PSN) tersebut memiliki potensi untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Namun, hal ini juga memunculkan tantangan sosial dan kultural yang perlu diperhatikan.

Pentingnya Penghormatan terhadap Masyarakat Adat

Filep menekankan bahwa pembangunan di Papua harus senantiasa menyertakan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat. Bagi Filep, investasi tidak sekadar masalah ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan struktur sosial masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

Menurut Filep, pemerintah pusat perlu membuka diri terhadap masukan dari lembaga adat terkait kebijakan investasi di Papua. Ia juga menegaskan bahwa di Papua, tak ada yang namanya tanah kosong, melainkan seluruh wilayah merupakan ruang hidup masyarakat adat dengan hak atas tanah dan sumber daya alam.

Keterlibatan Masyarakat Adat dalam Investasi

Senator dari Papua Barat ini menyatakan bahwa Undang-Undang Otonomi Khusus Papua menegaskan prinsip keterlibatan masyarakat adat dalam setiap rencana investasi. Baginya, tanpa melibatkan masyarakat adat, investasi berisiko memicu konflik sosial yang dapat menghambat tujuan pembangunan di Papua.

Filep mendukung masuknya investasi ke Papua, namun dengan pendekatan yang tepat dan menghormati hak-hak masyarakat adat sebagai landasan utama pembangunan di wilayah tersebut. Hal ini diharapkan dapat membawa keadilan bagi masyarakat pemilik tanah.

Rencana Investasi Besar di Fakfak

Beberapa proyek besar direncanakan akan dilaksanakan di Kabupaten Fakfak, antara lain kawasan industri pupuk dengan nilai investasi mencapai lebih dari Rp26 triliun. Selain itu, pengembangan Blok Migas Ubadari ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028, serta proyek agroindustri jagung dan tebu di wilayah Bomberay dan Tomage seluas 50.000 hektare yang melibatkan investor asal Korea Selatan.

Source link

BERITA TERBARU

BERITA POPULER