KNKT Membutuhkan 2-3 Bulan untuk Menyimpulkan Penyebab Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek
Jakarta, VIVA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memperkirakan butuh waktu antara 2 hingga 3 bulan untuk menarik kesimpulan terkait penyebab kecelakaan tragis antara Kereta Rel Listrik (KRL) dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menjelaskan kronologi kecelakaan yang terjadi pada tanggal 27 April 2026 lalu yang mengakibatkan 16 orang meninggal dunia. Menurut keterangan dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI, kedua kereta, KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, tiba di Stasiun Bekasi Timur dengan selisih waktu yang signifikan.
Meskipun seharusnya KA Commuter Line tiba lebih awal daripada KA Argo Bromo, namun dalam kejadian tersebut, KRL tiba lebih dulu di stasiun. Setelah itu, KA Sawunggalih tiba di stasiun lebih lambat dari waktu yang seharusnya. Kemudian, terdapat kejadian di mana sebuah taksi mogok di tengah rel yang mengakibatkan terjadinya temperan.
Taksi Mogok yang Memicu Kejadian
Taksi yang mogok tersebut menjadi pemicu terjadinya kerumunan warga di sekitar stasiun. Hal ini mengakibatkan KA Commuter Line terlambat berangkat, namun setelahnya diberangkatkan dan tiba di Stasiun Bekasi Timur. Namun, kerumunan yang terjadi membuat KRL tersebut harus berhenti.
Setelah kejadian tersebut, KA Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Bekasi Timur lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Masinis KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan telah mengerem sebelum tabrakan terjadi dengan KRL.
Dengan berbagai fakta yang diungkapkan, KNKT membutuhkan waktu beberapa bulan untuk melakukan investigasi mendalam guna mengungkap penyebab sebenarnya dari kecelakaan maut yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur.


