Abu Vulkanik: Bahaya dan Dampaknya bagi Penerbangan di Indonesia
Jakarta (ANTARA) – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini bukan sekadar masalah jarak pandang, tetapi berkaitan dengan risiko kerusakan mesin dan komponen pesawat.
Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Dampaknya
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada awal September 2026. Sebaran abu vulkanik kemudian mencapai sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra, termasuk Jakarta. Kondisi tersebut membuat sejumlah bandara harus menutup sementara operasional penerbangan sebagai langkah keselamatan.
Pada 6 September 2026, awan abu vulkanik dilaporkan mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki di sisi Sumatra. Dampaknya, lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak di sejumlah bandara.
Apa Itu Abu Vulkanik?
Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel tersebut memiliki sifat abrasif dan dapat terbawa angin hingga jarak yang jauh dari sumber erupsi.
Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik dapat menjadi ancaman serius bagi penerbangan bahkan ketika pesawat berada jauh dari gunung api. Awan abu dengan konsentrasi tinggi dapat mengurangi jarak pandang, merusak sistem pesawat dan menyebabkan gangguan pada mesin jet.
Bahaya bagi Pesawat
Salah satu risiko terbesar berasal dari kemungkinan abu vulkanik masuk ke mesin jet. Abu vulkanik dapat meleleh dan menyebabkan kerusakan pada komponen pesawat, bahkan hingga hilangnya tenaga mesin saat terbang.
Bahaya abu vulkanik juga meliputi gangguan pada kaca pesawat, sistem penerbangan, dan akselerasi keausan komponen pesawat. Karenanya, pengelola penerbangan harus menjaga keselamatan penumpang dengan mengalihkan rute atau menunda penerbangan saat terjadi sebaran abu.
Kesimpulan
Abu vulkanik bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat merusak mesin dan komponen pesawat. Karena risiko yang ditimbulkannya, tindakan pencegahan seperti penutupan bandara atau pengalihan rute penerbangan sangat penting untuk menjaga keselamatan penerbangan. Dengan demikian, pemantauan sebaran abu vulkanik menjadi kunci dalam menjaga operasi penerbangan yang aman.


