28.6 C
Jakarta
Wednesday, December 10, 2025
HomeprabowoCreating 94,000 Jobs: Unpacking the Economic Impact of MBG Program

Creating 94,000 Jobs: Unpacking the Economic Impact of MBG Program

Program Pemberian Makanan Bergizi Gratis (MBG) telah terbukti memberikan manfaat lebih dari sekadar gizi bagi para siswa, ibu hamil, dan balita – program ini juga menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Dalam waktu tujuh bulan sejak implementasi, program ini telah menciptakan lapangan kerja langsung bagi 94.000 individu, tersebar di 2.391 Unit Layanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh negeri.

Jumlah lapangan kerja telah meningkat seiring dengan ekspansi unit SPPG di berbagai wilayah. Dari 7.000 pekerja pada bulan Januari, jumlahnya naik menjadi 68.000 pada bulan April, kemudian mencapai 72.000 pada akhir Juni, dan melonjak signifikan menjadi 94.000 pada akhir Juli.

Penyerapan anggaran juga meningkat sejalan dengan itu. Perkiraan sekitar IDR 1–2 triliun telah disalurkan selama fase awal program (Januari–April), yang tumbuh menjadi IDR 4,4 triliun pada awal Juni, dan mencapai IDR 5,1 triliun pada akhir semester pertama tahun 2025 – setara dengan 7,1% dari total alokasi IDR 71 triliun yang dialokasikan untuk program tersebut.

Menurut Fithra Faisal, Penasihat Senior di Kantor Komunikasi Presiden (KPC), program MBG telah memberikan dampak yang signifikan pada ekonomi riil, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja.

“Inisiatif ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat,” kata Fithra di Jakarta pada hari Kamis (31 Juli).

Dia menambahkan bahwa penciptaan lapangan kerja diharapkan akan dipercepat pada paruh kedua tahun ini, seiring dengan percepatan penyaluran anggaran. Semakin banyak SPPG didirikan dan semakin banyak penerima manfaat yang dilayani, semakin besar pula penyerapan fiskal dan potensi lapangan kerja.

Badan Gizi Nasional (BGN) memproyeksikan bahwa pada bulan Agustus, Program MBG akan mencapai 20 juta penerima manfaat melalui 8.000 unit SPPG yang beroperasi. Berdasarkan proyeksi ini, penyerapan anggaran total diharapkan mencapai IDR 8 triliun.

Untuk lebih mendukung inklusi tenaga kerja, BGN berencana merekrut staf dapur SPPG dari keluarga yang tinggal dalam kemiskinan ekstrem dan kelompok pendapatan rendah (desil 1 dan 2). Dari 47 anggota staf yang biasanya bekerja di setiap SPPG, setidaknya 30% akan berasal dari rumah tangga ekonomi yang rentan tersebut.

Fithra melihat hal ini sebagai langkah strategis untuk membantu mengurangi kemiskinan ekstrem.

“Kebijakan ini memperkuat kapasitas operasional program, terutama dalam logistik dan manajemen, sambil memberdayakan komunitas berpendapatan rendah,” katanya.

Sumber link: [di sini]

Source link

BERITA TERBARU

BERITA POPULER