Aksi penjarahan yang terjadi di Sibolga dan sejumlah wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera, dipicu oleh kondisi warga yang terisolir dan kekurangan stok pangan. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Tito Karnavian mengungkapkan bahwa banyak daerah yang terisolir, sehingga droping bantuan menjadi sulit dilakukan. Hal ini membuat sebagian warga terpaksa mengambil barang dari pertokoan dan minimarket untuk memenuhi kebutuhan dasar, karena keterbatasan pasokan logistik.
Tito Karnavian juga menjelaskan bahwa saat ini Menko PMK Pratikno bersama BNPB sudah turun ke Sibolga untuk mengendalikan situasi dan mengatur distribusi bantuan agar lebih cepat menjangkau masyarakat. TNI dan Polri juga dikerahkan untuk memastikan keamanan di lokasi penjarahan. Pemerintah terus memetakan wilayah lain yang terisolir akibat jembatan putus dan akses darat yang rusak parah, sehingga distribusi logistik dilakukan melalui berbagai moda transportasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penjarahan dimulai dari Alfamart di Jalan Suprapto, diikuti oleh penjarahan di Indomaret. Aksi penjarahan ini diduga dipicu oleh kondisi darurat yang dialami warga Sibolga pascabencana banjir dan tanah longsor, di mana stok bahan pangan mulai sulit ditemukan di pasaran. Upaya penanganan dan distribusi bantuan terus dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak mendapatkan bantuan dengan cepat.


