Pada hari Rabu, 10 Desember 2025 pukul 12:00 WIB, aktivis lingkungan dan pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, telah mengungkapkan keluhannya terhadap Kementerian Kehutanan (Kemenhut), yang menjadi perhatian publik. Chanee menyatakan bahwa tekanan yang ia rasakan selama bertahun-tahun berkaitan langsung dengan usahanya dalam menjaga konservasi alam di Indonesia pada media sosial. Hal ini diungkapkan sebagai respon terhadap bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera dan Aceh sebagai pengingat akan pentingnya isu lingkungan saat ini yang sangat mendesak. Menurut Chanee, menjaga alam adalah investasi jangka panjang untuk masa depan.
Menyampaikan pernyataannya, Chanee mengingatkan bahwa apabila kita merusak alam atau melakukan kegiatan merusak lingkungan, maka akan berujung pada bencana seperti yang dialami oleh warga Sumatera saat ini. Dia menyoroti kondisi kawasan hutan lindung yang ditebang di sekitar lokasi Harangan Repa sebagai contoh nyata dampak dari aktivitas tersebut. Chanee juga mengungkapkan serangkaian keluhan terhadap Kemenhut, termasuk merasa diabaikan selama lebih dari dua dekade, mengalami tekanan selama hampir satu dekade, dan dilarang untuk mengunggah konten konservasi di media sosial. Ini semua merupakan upaya Chanee untuk memberikan perhatian pada isu lingkungan yang krusial saat ini dan memperjuangkan konservasi alam demi kedaulatan Indonesia.


