Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1 dari 127 orang di seluruh dunia memiliki autisme. Di Indonesia, masalah utama yang dihadapi oleh individu spektrum autisme masih berpusat pada lingkungan sosial yang belum sepenuhnya siap. Pemahaman yang minim dari masyarakat, stigma negatif, dan keterbatasan akses informasi yang berbasis ilmiah masih menjadi tantangan serius bagi banyak keluarga yang memiliki anak dengan autisme. Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah kondisi perkembangan yang mempengaruhi kemampuan komunikasi, pemrosesan sensori, regulasi emosi, dan interaksi sosial individu tersebut.
Tidak hanya individu yang terkena dampak, namun juga lingkungan sekitarnya seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dukungan dari semua pihak ini sangat penting agar individu dengan autisme dapat tumbuh, belajar, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara optimal. Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, sebagai pendiri Peduli ASD, menyatakan bahwa banyak keluarga yang merasa sendirian dalam memahami autisme, mencari informasi, menghadapi stigma, dan sering kali merasa bersalah. Festival Peduli Autisme 2026 di Depok dijadikan sebagai ajang pembelajaran bersama untuk memperluas pemahaman masyarakat bahwa autisme bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan harus dipahami.
Pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan masyarakat yang inklusif juga disoroti. Dengan bekerjasama, individu dengan autisme memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang, belajar, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara optimal.


